Dunia Itu Menipu

Di Catatan, Tamu Penulis 837 views

Saudaraku yang tercinta, inilah dunia yang kita cintai itu, apa jadinya dunia ini kemudian hari, dan kemana kembalinya harta yang kita kumpulkan?.

Ada orang pernah menulis sepucuk surat kepada salah satu sahabat. “Amma ba du”. Dunia sebenarnya sebuah mimpi, sedang akhirat adalah yang sebenarnya, sementara peertengahannya adalah kematian. Kita berada pada impian yang susah di takwilkan. Sekian.”

Lihatlah Umur Anda yang tercecer bagaikan mimpi-mimpi yang sudah ditakwilkan. Tahun-yahun berlalu bagai kejapan mata, pergi membawa kesenangan dan kesedihannya, manis pahitnya.
Tapi yang tersisa kini hanyalah perhitungan,

“Jangan mimpikan dunia lain
karena kiasan yang indah bukan main
juga jangan kepada waktu bermain,
membawa kesenangan lari secepat mungkin
masa memang paling cepat perputarannya
bagi manusia, sudah jelas apa yang dikerjakannya
berapa orang yang telah binasa
yang adalah kematiannya
berapa pula yang mengikuti gerak padang
di ujungnya nyawanya melayang.”

Dhirar bin Murrah berkata, “Iblis pernah mengatakan, “Bila pada diri anak Adam telah tertanam tiga maka tercapai sudah keinginanku: Bila telah lupa pada dosanya, banyak berbuat, dan merasa sombong dengan ide-idenya.”

Dunia itu mimpi

Sebagian diantara kaum salaf mengatakan, “Hati-hatilah terhadap alam dunia, sebab lebih licik dari Harut dan Marut. Mereka berdua hanya memisahkan suami dan istrinya sedangkan dunia memisahkan hamba dari Rabbnya.”

“Orang yang mementingkan duniawi tertipu
sedang orang zuhud lagi cerdik bebas tanpa terganggu
setiap raja mendapatkan kemegahannya
hanya yang dibungkus kafanlah kebutuhannya
menimbun harta lalu ditinggalkan
di dunia maupun di akhirat hanya mengecap cobaan.”

Abud-Darda r.a berpendapat tentang keadaan kita dengan perkataannya, “Setiap orang pasti memiliki kekurangan dalam akalnya. kekurangan kesabaran dan ilmu. Alasannya, bila mendapatkan kenikmatan dunia yang berupa kelebi
han harta, menjadi sangat senang tanpa ada rasa sesal bahwa siang dan malam selalu mengikis umurnya, bahkan semakin berkurang sana-sama tidak membawa arti.”

Semangat mencari kenikmatan dunia membawa mayoritas manusia ke jurang kesedihan, kegalauan dan hidup yang tidak karuan. Hanya sedikit yang menyesal karena umurnya berkurang dan kematiannya semakin dekat.

Kebanyakan manusia lupa bahwa tahun-tahun umurnya telah lewat, dan hari-harinya telah berlalu. Tapi tidak pernah melupakan masalah-masalah duniawi.

“Aku berfikir tentang dunia
lalu aku tahu yang sebenarnya
caranya, taqwa kepada Allah
sebagai garis pemisah
mulanya prasangkaku buruk sekali
janjinya tak pernah ku tepati
sekarang aku menjadi tuanya
sebelumkemarin jadi hambanya.”

Berikut komentar yang mengejutkan karena kurang berimbangnya masalah-masalah yang ada. Inilah komentar Yahya bin Mu ad, “Aku sangat terheran heran kepada orang yang menyesal karena kekurangan harta. Bagaimana tidak menyesali umurnya yang berkurang?”

Belum pernah kita melihat atau mendengar ada orang yang meratapi malam-malamnya menyesali umurnya yang berkurang atau waktunya yang pergi. Tapi yang banyak kita lihat justru meratapi kekurangan hartanya. Lalu dimana posisi dia terhadap pergantian alam setelah selang waktu yang tidak lama lagi ini?, Dimana pula posisi mereka terhadap perhitungan dan pembalasan?

“Yang takut pergantian tempat tinggalnya
hendaknya maenggantinya dengan yang baik tentu
apa yang terucap bila semua baik kepadanya
dari sana sini pun berpadu
apa yang ia ucapkan
ketika sore hari sudah di liang kuburan
terbaring seorang diri
tinggalkan kerabat dan tempat tinggaal
disana ia akan mengerti
betapa sangat sedih jauh kerabat dan tempat tinggal
betapa balasan orang yang malam-malamnya penuh kesenangan
kesenangan yang adalah godaan.”

“Wahai orang yang terlena
ujung-ujung tombak kematian dapa mengenai sasarannya
uban jatuh tepat dikepala saya
seperti halnya tombak, ia juga dikendalikan
aku belum menyiapkan tempat tinggal
juga tidak dengan bekal
yang kusiapkan hanya sebuah tipuan
dan hasil dari perbuatan.”

Di antara kata-kata mutiara yang pernah ada adalah kata-kata Al-Hasan r.a berikut, “Orang yang hartanya banyak, dosanya juga banyak. Orang yang banyak omongnya, banyak juga bohongnya. Dan, yang budi pekertinya jelek, jiwanya buruk sekali.”


  • By  Ning Kayla
  • URL: http://ningkayla.blogspot.com

author
Penulis: 
Seorang yang biasa dan baru mengenal dunia Internet. Jadikan media sebagai informasi yang bisa membawa manfaat. Silahkan bagikan ke sahabat, kerabat Anda jika artikel diatas ada manfa'atnya.
Inilah 4 Jenis Penyakit Sumber Malapetaka
Inilah 4 Jenis Penyakit Sumber Malapetaka
4 Jenis Penyakit Sumber Malapetaka– Tahukah Anda?,
Kenapa Situs Trading Forex FBS.com diblokir, Apakah Penipuan?
Kenapa Situs Trading Forex FBS.com diblokir, Apakah Penipuan?
Adshuda.com, Di Tahun 2016 ini, Kementrian Kominfo
Benarkah Istri Suka Bersolek Sumber Petaka Rumah Tangga?, Berikut Penjelasannya
Benarkah Istri Suka Bersolek Sumber Petaka Rumah Tangga?, Berikut Penjelasannya
Berdandan atau bersolek adalah merupakan fitrah wanita
Baca Juga×

Top